fbpx

Hustle Culture Adalah Gaya Hidup yang Berbahaya

Published by Alief Mahadika on

Hustle Culture Adalah Gaya Hidup yang Berbahaya

Selfup.id – Akhir-akhir ini istilah hustle culture sering digunakan oleh anak-anak muda yang menormalisasi gaya hidup bekerja hingga larut malam, bahkan mereka juga bekerja di akhir pekan. Padahal hustle culture adalah suatu gaya hidup yang cukup berbahaya apalagi jika tidak dibarengi dengan mental dan fisik yang kuat. Banyak orang lebih mengutamakan pekerjaannya dibandingkan kesehatannya. Jika ditanya alasannya pasti jawabannya karena menurut mereka kelelahan bekerja lebih baik daripada kelelahan karena tidak punya uang.

Tidak salah memang pernyataan mereka, apalagi di tengah masa pandemi seperti sekarang ini, hampir semua orang berupaya untuk menjaga kestabilan ekonomi masing-masing. Masih banyak orang yang belum dapat bekerja akibat pandemi dan masih bergantung dari uang tabungannya selama ini untuk bertahan hidup. Namun bagi yang memiliki pekerjaan, mereka akan bekerja sebaik mungkin untuk dapat mempertahankan perkerjaan mereka.

Hustle Culture Bagi Anak Muda

Dikutip dari channel youtube Gita Savitri, Hustle Culture adalah gaya hidup dimana seseorang sibuk dengan pekerjannya di mana pun dan kapanpun. Dengan gaya hidup ini mereka merasa puas, dan merasa mereka telah bekerja keras untuk mencapai tujuannya yaitu cepat sukses. Saat ini banyak orang mengasumsikan kalau hustle culture itu mengapresiasi orang yang sibuk kerja, padahal tanpa disadari mereka malah over work dan mengorbankan pola hidup mereka. Hustle culture sendiri cukup populer dikalangan anak muda yang bekerja di Startup.

Hustle culture seolah-olah sudah menjadi budaya di startup. Padahal tidak hanya startup, banyak juga anak muda yang bekerja di korporat menerapkan gaya hidup ini. bahkan beberapa tahun lalu ada istilah yang cukup trend untuk mereka yaitu budak korporat, namun nampaknya istilah ini sudah ketinggalan jaman karena bekerja di startup menjadi pilihan utama anak-anak muda saat ini.

Popularitas Startup di kalangan Anak Muda

Startup menjadi sangat populer di kalangan anak muda karena lingkungan pekerjaannya sangat berbeda dengan korporat. Mulai dari atasan yangg masih muda bahkan seumuran. Dan juga di startup lebih banyak fasilitas hiburan yang menarik minat anak muda untuk bekerja di dalamnya.

Tidak seperti korporat yang memiliki jam kerja pasti dan untuk naik jabatan mengutamakan orang yang memiliki waktu cukup lama bekerja di perusahaan tersebut. Startup lebih fleksibel dalam jam kerja, pekerja biasanya bebas memilih jam masuk asal jam kerja nya tetap sesuai minimal per minggunya. Dan untuk naik jabatan di startup tidak melihat orang itu sudah berapa lama, tapi lebih didasarkan kinerja dari tiap orang.

Namun jam kerja yang fleksibel ini justru berbahaya karena orang cenderung memaksakan diri untuk bekerja lebih lama dengan harapan lebih cepat sukses. Padahal bekerja jauh lebih lama belum tentu membantu mereka naik jabatan, karena jam kerja hanya menjadi faktor kecil. Faktor terpenting adalah kinerja dari masing-masing orang. Kalau kalian bekerja dengan jam kerja minimal tapi dengan kinerja yang sangat baik, bukan tidak mungkin kalian akan lebih cepat sukses.

WFH Menjadi Penyebab Kurangnya Istirahat

Apalagi setahun terakhir hampir semua startup menerapkan WFH atau work from home. Dampak positid dari WFH adalah tidak perlu menghabiskan waktu di jalan untuk menempuh kemacetan Jakarta, orang-orang jadi lebih efisien dalam bekerja. Namun lama kelamaan produktif akibat WFH ini menjadi semakin berbahaya. Banyak orang yang mengeluh tidak ada waktu untuk istirahat karena jarak antar meeting hanya sebentar, alasan utamanya karena mereka merasa tidak perlu istirahat lama-lama karena kita hanya di rumah saja.

Padahal walaupun kita bekerja dari rumah, tapi kan kita tetap bekerja dan membutuhkan istirahat. Kalau mental sudah kelelahan, untuk mengobatinya akan cukup sulit dan membutuhkan waktu yang lama. Untuk menghindari itu kita bisa melakukan self-healing di rumah. Self-healing penting untuk menghindari kelelahan emosional. Karena hanya kita yang tahu batas kelelahan mental kita masing-masing.

Baca Juga 9 Metode Self Healing, untuk Kamu Yang Sedang Lelah dengan Pekerjaan

Dampak buruk lainnya dari hustle culture ini adalah anak-anak muda merasa hidupnya tidak berkembang. Padahal mereka merasa sudah memberikan yang terbaik untuk perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka juga merasa sudah tidak punya waktu untuk teman dan keluarga. Padahal kalau kita sakit siapa yang menjenguk kita kalo bukan teman dan keluarga kita sendiri.

Sudah banyak testimoni dari orang-orang yang resign dari perusahaan yang menerapkan hustle culture. Dan kebanyakan dari mereka memiliki respon yang sama yaitu merasa lega, mereka merasa akhirnya bisa beristirahat dan lebih menghargai hidup. Bekerja dengan perfeksionis tidaklah salah, tapi kalo kalian tidak sadar kalau sudah belerbihan baru itu berbahaya.

Kasus Intern di Startup dengan Hustle Culture

Beberapa minggu lalu permasalahan hustle culture ini juga dibahas dalam story akun Instagram yang cukup terkenal di kalangan anak muda yang bekerja di startup yaitu akun Ecommurz. Akun Instagram ini membahas real life di dalam startup yang tidak diketahui banyak orang. Mulai dari jam kerja yang berlebih dan juga kasus intern-intern yang underpaid di salah satu startup terbesar di Indonesia.

Akun Ecommurz sangat populer karena sangat mempresentasikan keresahan anak-anak muda yang bekerja di lingkungan startup. Mereka ingin menyebarkan awareness kepada para fresh graduate bahwa bekerja di startup tidak seindah drama korea.

Salah satu story mereka mengingatkan followers untuk tidak masuk ke perusahaan yang dalam lowongan pekerjaannya mencatumkan ”we are family” atau “fast paced environement”. Karena menurut mereka dua kalimat tersebut hanyalah istilah keren dari underpaid position. Namun banyak juga anak muda yang mau tidak mau harus mendaftar ke perusahaan di atas karena mereka tidak memiliki pengalaman kerja. Karena saat ini akan cukup sulit mendapat pekerjaan yang baik jika belum memiliki pengalaman kerja. Akhirnya banyak anak muda yang rela underpaid atau bahkan tidak dibayar agar mendapat pengalaman kerja.

Jika kamu termasuk ke dalam orang-orang yang merasa hustle culture ini keren, coba dipikirkan kembali untuk jangka panjang. Apakah kalian ingin cepat sukses tapi mengorbankan kesehatan kalian? Mungkin di luar sana akan ada kaum mendang mending yang mengatakan “masih mending punya kerjaan, gak bersyukur banget mending buat gua aja sini kerjaannya.” Tapi jangan takut akan mereka. Kita mendapatkan pekerjaan ini karena kualitas yang kita punya dan kita berhak untuk mendapatkan kestabilan antara kehidupan sehari-hari dengan kehidupan pekerjaan.

Jika kamu memiliki teman yang masih terjebak dalam hustle culture, kamu bisa share artikel ini. Dan jangan lupa untuk subscribe email kalian agar tidak kelewatan artikel-artikel terbaru dari kami. Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai hustle culture kalian bisa tonton video dari Gita Savitri. Jangan lupa untuk menjaga work life balance ya sobat uppers.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *